Ujung yang mana?

Telah jauh kaki ini melangkah…., menelusuri liku-liku kehidupan. Mendaki lereng-lereng gunung, menuruni tebing-tebing curam. Pun melintasi padang sahara yang seolah tak bertepi. Dan terkadang…., kehidupan membawa kita menyeberangi samudra nan luas yang tak satupun orang dan jin tahu, adakah jaminan selamat dari badai. Akan tetapi, yang tersering adalah buaian angin yang berhembus, sepoi-sepoi, dibawah rindangnya pohon, yang seringkali membuat kita nyaman hingga tak jarang tertidur dalam keterlenaan dan kelengahan yang membahayakan. Demikian itulah rentangan yang berbalut dalam warna-warni kehidupan.

Dibalik itu semua…., ada pertanyaan besar yang jarang dan mungkin tidak pernah mampir di hati kita. Di ujung kehidupan dunia nanti, saat dimana hari yang telah Allah tentukan tiba, setelah amalan-amalan kita di hisab, dimanakah kita akan melabuhkan diri ? Ke surga?  Atau ke neraka kah? Sejenak….

Sejenak marilah kita tengok, apa saja yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, dari mulai kita bangun tidur, hingga tidur kembali.

Adakah dengan cara hidup yang demikian itu, kikir, kufur nikmat, tidak mau ke majelis ta’lim, tak pernah berusaha beribadah sebaik mungkin, tidak pernah berusaha keras untuk masuk surga, lantas kita akan masuk surga ?

Mari kita merenungi sejenak, merenung sesaat untuk mengoreksi diri dalam langkah-langkah kehidupan sehari-hari. Semoga dengan hasil merenung sesaat, dengan penuh kesungguhan, membuat kita selamat masuk ke surga, setelah sebelumnya hampir saja terjerembab ke jurang neraka.

Allahu a’lam

Bumi Allah,

2 Jumadits Tsani 1434 H/ 13 April 2013

Advertisements

cukuplah aku menjadi bunga terindah yang menghiasi taman mu

Cukuplah aku bercita-cita menjadi istri shaliha yang ketika suami pulang dari bekerja ia merasakan kesejukan yang hanya ia dapati ketika berada di rumah.

Yang karena keshalihan ku, aku hanyalah satu-satunya wanita yang akan menghiasi taman-taman hatinya (selain Ibu dan anak perempuanya kelak, hehe).

Ditengah badai kelelahan yang mendera ini……

Selepas ujian tengah semester enam, semester yang notabene ini semester terberat buat anak-anak FIK (ups…. sebut identitas), kuliah dengan mata kuliah 23 sks. Analoginya adalah, kuliah di FIK 17 sks itu sudah seperti kuliah 23 sks di fakultas lain, bagaimana dengan 23 sks betulan? Haha, ya begitulah. Tidak hanya itu…. Berbagai amanah yang sudah di pikul di pundak ini, senantiasa mewarnai hari-hari indah yang insya Allah berbekas sebagai dongeng pengantar tidur untuk anak-anak kelak (#eh…. ^_^). Ya… malam ini saya pulang selepas maghrib lagi, lagi? Ya, lagi-lagi saya pulang selepas maghrib. Bareng teman saya, naik bikun, turun di halte kutek, melewati jalanan kutek, lantas bertemu gerobag nasi goreng, berhenti sejenak. Ya… karena teman saya ini lapar rupanya.

Oke…. Topic cerita ini adalah si penjual nasi goreng. Teman saya yang cantik juga shaliha ini (perlu sebut nama g yaaa…., emmm, tidak perlu ya ^_^), yap…. Teman saya bercerita tentang tukang nasi goreng yang sedang membuatkan pesanan teman saya ini. Lebih tepatnya bisik-bisik sesame perempuan (bukan gossip yaa…. :p )

“Eh… eh…. Mas nya ini sepertinya penganten baru lho Na…. Tau g Na, kemarin pas aku beli nasi goreng ini, aku denger Mas-Mas nya cerita, nasehatin gitu ke temenya. Dia bilang ke temenya, aku seneng banget punya istri yang shaliha. Rajin sholat tahajud, baca Al-Qur’an, sholat dhuha, jadi kalau pulang ke rumah itu hawanya sejuk banget. Dia g pernah ngeluh, g pernah ngomel mau dagangan ku ini habis atau tidak, ia selalu menerima. Rasanya tu ya kalau udah punya istri yang shaliha, dunia itu serasa hanya dia seorang perempuan di mataku (Allahu a’lam).”

Kyaaa…… envy….. jadi envy, harus jadi istri shaliha. Saya mau jadi istri shaliha….., cukuplah sungguh cukuplah menjadi istri yang shaliha…., tidak, tidak mau muluk muluk punya ini punya itu ^_^ (idealisme saya sekarang, yang semoga kelak akan tetap ideal di dunia pasca kehidupan kampus, dunia yang sesungguhnya)

Yang menerima seberapapun penghasilan suami, yang tidak banyak meminta, yang senantiasa mencukupkan apa-apa yang telah Allah karuniakan. Yang akan membuat kesejukan yang tak dapat ditemukan selain dirumah, Baitti jannati J . Yang ketika penat melanda….maka rumahlah tempatnya kembali. Yang bersamanya aku akan mencintai Rabb ku dengan baik. Yang bersamanya….aku akan menjadi bidadari dunia dan surga. (#hadehhh… galau akut)

Teruntuk seseorang, yang telah Allah takdirkan namamu bersanding dengan namaku, di Lauhul Mahfuz…., aku hanya ingin menjadi bunga terindah di tamanmu.

Bumi Allah

12 April 2013, pasca ujian tengah semester enam